Saturday, March 12, 2016

Five People You Meet in Heaven

Judul: Five People You Meet in Heaven
Pengarang: Mitch Elbom
Bahasa: Inggris
Jumlah halaman:
Waktu baca: 2 hari
 
Peringatan!
Jangan - i repeat - jangan sekali-kali baca buku ini di perpus, atau segala bentuk tempat umum yang mana ada banyak orang di sekeliling. 

I did. And my eyes hurt because i keep trying not to cry which was even more painful to be honest :(

Buku ini mengangkat tema tentang afterlife. Bagi banyak orang, konsep afterlife kebanyakan memang mengacu pada surga dan neraka di beberapa agama. Perkenalan dengan agama dimulai sejak usia kita masih sangat dini. Adalah wajar kalau konsep surga-neraka sangat terinternalisasi bahkan setelah kita bertambah dewasa. Dari segi sains, memang belum ada yang bisa membuktikan apa memang surga-nereka beneran ada. Dan ga ada juga yang tahu apalah memang afterlife beneran ada. Nah di situlah "percaya" alias iman bermula.

Eaaa udah pantes belom nih nulis ginian...... 

Yang aku suka dari buku ini adalah, walaupun mengangkat tema yang sangat integral dan bersinggungan dekat dengan agama, Mitch Elbom sama sekali ga membawa bendera agama maupun menyajikan doktrin-doktrin tertentu. Sosok Tuhan pun bahkan tidak muncul secara eksplisit. Elbom memilih untuk bercerita dari sudut pandang yang sangat personal dari tokoh utama. Elbom menghadirkan gambaran konsep afterlife yg berbeda dan menurutku sih menarik. Buku ini menempatkan afterlife sebagai lanjutan dan refleksi dari hidup; bukannya sebuah babak baru di mana babak sebelumnya sudah ditutup, atau sistem reward-punishment atas apa yang dilakukan semasa hidup. 

Nah terus kenapa jadi nangis?
Ada banyak hal yg semasa hidup kita kadang ga sadar; bagaimana kita menyentuh hidup orang, bagaimana kehidupan orang lain bersinggungan dengan kita, bagaimana kita terkadang mengalami peristiwa yg pahit dan membekas lama serta meninggalkan luka menganga. Nah buku ini membahas tentang hal tersebut.

Well aside the fact that i am a total cry baby when it comes to even the slightest sappy sentence, buku ini menurutku sangat reflektif. Tokoh utama, Eddy, adalah seorang mekanik taman bermain yg sudah uzur dan kenyang dengan asam-garam kehidupan (elah). It is easy to imagine him to be this bitter, grumpy old man who grunt over little things, be it children's whining or annoying stuffy old machines. Suatu pagi, dia mengalami kecelakaan yg membuatnya meninggal dan dari situlah dimulai perjalanan Eddy setelah kematian serta disambut oleh 5 orang. 

5 orang tersebut satu persatu menemui Eddy, bercerita tentang bagaimana hidup mereka bersinggungan dan memberi penjelasan tentang hal yang berkaitan dg hidupnya yang Eddy tidak tahu, serta penjelasan akan hal yang Eddy rasakan belum puas dan dipendam mulu. Pada akhirnya, pertemuan dengan 5 orang itulah yang membuat Eddy belajar berdamai dengan diri sendiri, memaafkan diri sendiri serta melepaskan amarah yg ia pendam terhadap orang lain. 

Yang aku suka dari buku ini, selain menawarkan konsep afterlife yang menarik, juga karena buku ini isinya sebenarnya penuh sama petuah ini-itu tapi disampaikan tanpa nada preachy atau menggurui. Aku juga suka sih cara menulisnya Elbom dan bagaimana dia membuat sekuensi peristiwa loncat-loncat kesana kemari tanpa bikin bingung namun tetap menarik dan bikin penasaran.

In the end, i did cry a lot. 

Even though this book is about an old man making peace with his life through meeting 5 people after he died, i still can relate to it. It kinda reminds me a lot of things. Bikin mikir banget sih pas udah di halaman-halaman tertentu.

Final verdict:
5 out of 5

No comments:

Post a Comment